Selasa, 02 Desember 2014

Main Jaran,permainan anak Sumbawa

   
Mereka hebat


  Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari beberapa faktor,seperti agama,adat istiadat,bahasa,pakaian,perkakas ,karya seni,gaya hidup,dan bangunan.Budaya merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia karena banyak orang menganggapnya diwariskan secara genetis (sejak lahir).Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat,bahkan jika kita pergi ke daerah orang atau negeri orang,maka budaya itu akan tetap melekat dalam diri orang tersebut.Melville J.Herskovits dan Bronislaw Malinowski (dalam wikipedia) mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan masyarakat itu sendiri.Kebudayaan ada dikenal dengan kebudayaan nonmaterial,seperti dongeng,lagu,tarian tradisional,dan permainan.



     Dalam kebudayaan Sumbawa terdapat suatu permainan yang dianggap sebagai warisan nenek moyang mereka.Permainan tersebut adalah “Main Jaran” atau “pacuan kuda”.Main jaran adalah suatu permainan keahlian memacu kuda oleh seorang joki.Yang menjadi daya tarik disini adalah joki yang menunggangi kuda tersebut  adalah anak kecil atau biasa disebut joki cilik.Joki cilik ini berusia sekitar 6-10 tahun,meskipun masih kecil tapi mereka sangat kuat dan pandai dalam menunggangi kuda.Permainan ini sangat digemari oleh masyarakat Sumbahwa maupun masyarakat luar pulau Sumbawa yang sengaja datang untuk menyaksikan langsung permainan tradisional yang sangat menarik ini.Konon katanya joki cilik ini hanya terdapat di Sumbawa,dan anda tidak akan temukan di tempat lain,jika ada pacuan kuda mungkin jokinya bukan anak kecil.

Semangat yg tak pernah padam.

     Jika kita memutar waktu kebelakang tentang sejarah main jaran ini,bahwa di Indonesia pada jaman dahulu digunakan sebagai alat untuk berburu oleh masyarakat Nusa Tengara Barat khususnya Sumbawa.Sumbawa merupakan salah satu daerah nusantara yang menjadi bekas penjajahan Belanda.Seiring perkembangan fungsi kuda pada masa penjajahan digunakan sebagai pertunjukan olah raga pada acara hari ulang tahun petinggi Belanda pada masa itu.Sesuai dengan perkembangan zaman,main jaran ini mulai berkembang dalam masyarakat Sumbawa seperti yang masih kita lihat sampai saat ini,namun terdapat banyak perubahan dari masa dulu.Dahulu Main Jaran peraturannya tidak terlalu ketat,namun sekarang setiap aspek sangat diperhatikan.Perubahan itu seperti atribut,peraturan main,dan lain sebagainya.Perubahan atribut bertujuan agar lebih menarik dan memiliki perbedaan antara kuda satu dan yang lainnya.Dari segi perubahan cara main,dahulu belum ada pembagian kuda menurut kelasnya,namun sekarang sudah terbagi dalam beberapa kelas,seperti kelas teka saru,teka pas,teka A,teka B,kelas OA,kelas OB,harapan,t dan kelas dewasa.Kelas dewasa ini merupakan kelas yang didalamnya terdapat kuda yang sangat besar,jika kita melihat kecepatannya di arena pacuan kuda,larinya sangat cepat dan membuat permainan menjadi semakin seru.

Sang joki cilik dan kudanya.
Ayooooo,,siapa yg menang. :D


     Main Jaran masuk dalam agenda Festival Moyo yang dilaksanakan setiap satu kali dalam setahun.Hal ini membuat wisatawan lokal maupun  manca negara ikut serta dalam menyemarakkan Festival Moyo ini.Saya pernah bertanya kepada salah satu wisatawan asal Perancis, dalam bahasa inggris,”kenapa anda mengunjungi Sumbawa?”,dia menjawab “karena saya ingin menyaksikan Festival Moyo khususnya main jaran”.Ini sesuatu yang membanggakan karena Sumbawa mulai dilirik dunia sebagai salah satu tujuan wisata yang menarik.Dengan adanya kedatangan wisatawan asing ini dapat menghasilkan devisa daerah.


Joki ciliknya eksis ya,hehe. :D



     Itulah penjelasan singkat tentang “Main Jaran”,semoga dapat menambah wawasan anda dan lebih mengenal kebudayaan Sumbawa yang merupakan warisan dari nenek moyang kita.Lestarikan budayamu,cintai budayamu,dan cintai SUMBAWA.Terimakasih.